20 April 2010

Ada Apa dengan Filariasis di Indonesia?

Tika Nurhasanah


Masih ingatkah kita kejadian yang menghebohkan bulan November 2009 yang lalu? Pemberian obat massal antifilariasis yang ditujukan untuk memberantas penyakit kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Bandung, ternyata berakibat fatal. Dilaporkan sebanyak 8 warga diduga tewas dan lebih dari 200 orang warga dirawat setelah mengkonsumsi obat antifilariasis yang diberikan secara massal oleh pemerintahan setempat dengan jumlah pasien terbanyak berasal dari Kecamatan Majalaya. Menanggapi kasus yang terjadi Ketua Komite Ahli Pengobatan Filariasis (KAPFI) Prof. Dr. dr. Purwantyastuti, M.Sc., Sp.FK mengatakan, obat anti filariasis yang diberikan aman digunakan, apakah benar begitu? Kasus kematian warga setelah mengkonsumsi obat antifilariasis diduga disebabkan oleh 3 hal; pemberian obat massal tanpa didampingi tenaga kesehatan, pemberian obat yang tidak tepat dosis, dan tidak dinformasikan tata cara penggunaan obat yang benar.

Pada saat pemberian obat antifilariasis di Kabupaten Bandung, pemberian obat diberikan oleh kader bukan oleh tenaga medis, yakni farmasis yang memiliki tanggung jawab dalam pemberian obat dan reaksi di dalam tubuh pasien. Alasan Dinas kesehatan yang mengatakan bahwa kader-kader yang bekerja telah diberikan sosialisasi dan agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Meskipun dinas kesehatan provinsi berkelit tim dokter dan perawat tetap berada di puskesmas kecamatan selama tiga hari untuk melakukan pengawasan dalam operasional pengobatan massal kaki gajah. Apabila tenaga medis yang disediakan hanya bekerja di puskesmas, lalu siapa yang mengontrol pemberian obat di lapangan? Walaupun hal ini merupakan pengobatan massal gratis bagi masyarakat tidak seharusnya pelayanan yang diberikan alakadarnya, pengeluaran pemerintah dibiayai oleh masyarakat, maka kewajiban pemerintah untuk memberi pelayan yang terbaik di bidang kesehatan.

Pemberian obat yang tidak tepat dosis menjadi salah satu penyebab terjadinya efek samping yang fatal. Proses pengobatan menggambarkan suatu proses normal atau "fisiologik" dari pengobatan, di mana diperlukan pengetahuan, keahlian sekaligus berbagai pertimbangan profesional dalam setiap tahap sebelum membuat suatu keputusan. Dalam pemberian dosis obat-obatan perlu diperhatikan usia dan berat badan dari si pasien, karena pemberian dosis bagi anak-anak, dewasa dan orangtua di atas 50 tahun berbeda. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh pasien dalam menerima pengobatan. Dalam kasus pengobatan filariasis di Kabupaten Bandung, diberikan tiga jenis obat-obatan, yaitu dietil karbamasin sitrat (DEC), albendazol (obat cacing) dan parasetamol (obat penurun panas). Pemberian dosis antifilariasis yang diberikan sudah sesuai prosedur WHO, yaitu 6 mg/kg berat badan untuk DEC dan 400 mg untuk Albendazole, dikonsumsi 3 kali sehari, penimbangan berat badan warga memang tidak dilakukan, namun pemerintah menggunakan perhitungan berat badan rata-rata per kelompok umur yang dinilai cukup aman. Kesalahan dalam pemberian obat yang tidak sesuai dengan kelompok kemungkinan besar dapat terjadi, melihat obat antifilariasis diberikan bukan oleh tenaga medis yang profesional.

18 April 2010

Latihan Kepemimpinan Ismafarsi : Mahasiswa Farmasi Berguru kepada TNI AD

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” salah satu hadis Rasulullah yang mengajarkan agar manusia menuntut ilmu sebanyak-banyak. Ilmu dapat diperoleh tidak hanya dari institusi formal seperti perguruan tinggi, namun dapat diperoleh dari sumber lainnya, hal itulah yang mendasari Ismafarsi (Ikatan senat mahasiswa farmasi Indonesia) mengadakan Latihan Kepemimpinan tingkat II yang disingkat LK II se-Jabodelata (Jakarta, Bogor, Depok, Lampung, dan Tangerang) yang merupakan kelanjutan dari Latihan Kepemimpinan Dasar di tiap Universitas. LK II yang dilaksanakan pada tanggal 17-18 April 2010 yang diikuti oleh oleh 7 Universitas dan sekolah tinggi Farmasi Se-Jabodelata, antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Pancasila (UP), Universitas Muhammadiyah Profesor Doktor Hamka (UHAMKA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN), Universitas Tulang Bawang Lampung (UTB), Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor (STTIF), dan Universitas Pakuan Bogor.

Keunikan Latihan Kepemimpinan Farmasi kali ini dibanding sebelumnya adalah pihak-pihak yang terkait tidak hanya berasal dunia kesehatan namun juga dari non-kesehatan, yang diwakili oleh TNI AD. Acara yang dilaksanakan di dua tempat ini yaitu Universitas UHAMKA sebagai tuan rumah dan Resimen Induk Kodam Jaya (Rindam Jaya) Jakarta Timur memiliki acara-acara yang menarik untuk diikuti oleh Mahasiswa Farmasi karena dirancang untuk pembentuk Farmasis-Farmasis berjiwa pemimpin yang siap berkontribusi bagi kemajuan Ismafarsi dan dunia Kefarmasian Indonesia. Bertempat di Kampus UHAMKA, acara LK II ini dibuka oleh Wakil Dekan III FMIPA UHAMKA, Drs. Priyanto, Apt., M. Biomed, dilanjutkan dengan pelatihan kepemimpinan oleh Saudara Rian selaku kepala Bidang Advokasi Ismafarsi wilayah Jabodelata. Hal yang menarik dari pelatihan dari saudara Rian adalah setiap materi yang disampaikan langsung dipraktikan melalui permainan sehingga, mahasiswa lebih mudah menyerap ilmu yang telah disampaikan. Contohnya, pada sesi kepemimpinan narasumber mengatakan bahwa dalam organisasi terdiri dari tiga bagian penting, yaitu konseptor, kreator, dan pengawas. Dalam permainan para mahasiswa dibagi menjadi 3 bagian. Pertama merupakan para konseptor, mereka diminta untuk menjelaskan isi dari pola puzzle yang telah diberikan oleh narasumber hanya dengan kata-kata saja kepada para kreator selama 5 menit, selanjutnya para kreator menyusun puzzle sesuai intruksi yang telah diberikan setelah puzzle selesai tim pengawas menilai cara kerja para kreator dan memberikan saran dan kritik membangun.

29 Januari 2010

Curhat...

Banyak orang yang berkata, "Ikuti nasihat orang tua!" memang banyak benarnya namun menurut gw itu ga se100 persen benar. hal ini gw alami, ngikuti kehendak bokap, eh malah membawa bencana dan sekarang gw harus tertatitatih mencari jalan keluar. Jadi gimana dong? saran gw dengerin nasihat orang tua, anggap sebagai masukan, namun yang memutuskan untuk ngejalani atau tidak adalah kita. Pikirkan matang-matang resiko dari keputusan lo. Bila kita yang memutuskan sendiri, kita tidak akan mencari kambing hitam atas masalah yang terjadi. Bila pendapat kita berbeda dari pendapat orang tua, berikan ajaran, alasan-alasan kuat mengapa memilih keputusan itu, InsyaAllah dimudahkan jalannya.

Welcome 2010

Fuihh... udah tahun 2010, udah 1 semester yang gw lewati dengan Ip ya...lumayanlah. Sekarang fokus gw adalah 1. Masuk dan berkontribusi di HMD Farmasi 2010, KSM EP 2010, 2. Menyerap Ilmu dan mengaplikasikannya semampu gw 3. Dangan pulsa sukse...hoho >_< semoga Allah meringgankan jejak langkah gw di jalan kehidupan ini.