Bismillah
Mahasiswa seharusnya tidak perlu getir dengan kewajiban menulis di jurnal ilmiah sebagai prasyarat kelulusan. Hampir setiap mata kuliah mewajibkan mahasiswa untuk membuat makalah atau laporan. Menulis sudah menjadi makanan mahasiswa setiap harinya. Terlebih lagi metodologi penelitian dan penulisan karya ilmiah juga diajarkan di bangku kuliah. Jadi apa yang dikhawatirkan?
Niat baik Direktorat Kebijakan Perguruan Tinggi (DIKTI) untuk mengejar ketertinggalan publikasi jurnal ilmiah Indonesia dibanding Negara tetangga, perlu didukung. Namun, dalam waktu pelaksanaan yakni Agustus 2012, terkesan terburu-buru. Seharusnya DIKTI memberikan masa transisi 1-2 tahun sebelum menerapkan kebijakan ini. Masa transisi perlu dilaksanakan sebagai tahap persiapan, agar ke depannya berjalan sesuai tujuan.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan pada masa transisi. Pertama, sosialisasi kebijakan secara merata ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Tercatat Indonesia pada tahun 2012 Indonesia memiliki 3070 perguruan tinggi. DIKTI harus berkerja keras agar setiap Perguruan Tinggi memahami kebijakan yang dikeluarkan, bukan hanya melalui surat edaran semata.
Kedua, perlu adanya sinkronisasi dalam penulisan serta metodologi penelitian ketika penyusunan skripsi dengan jurnal ilmiah. Diharapkan, skripsi yang dihasilkan mahasiwa dapat memenuhi kriteria untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah.
Ketiga, diperbanyak lomba-lomba penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal. Seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Artikel Ilmiah yang tiap tahun diselenggarkan oleh DIKTI. Sehingga dapat menjadi sarana latihan bagi mahasiwa dalam menulis jurnal ilmiah.
Setelah masa transisi berakhir, segenap stakeholders yakni DIKTI, pemerintah, dan civitas akademik harus saling berkoordinasi dalam menjaga keberlangsungan kebijakan ini. DIKTI melakukan fungsi pengawasan dan sosialisasi, pemerintah memberikan bantuan dana terkait penelitian yang dilakukan mahasiswa. Serta Civitas akademika menjaga mutu dari jurnal yang dihasilkan.
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat
25 Februari 2012
23 Januari 2012
Berbedak sambil Berbicara “Memicu” Kanker
Bismillah
Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita untuk selalu berusaha tampil cantik baik secara alami atau dengan menggunakan alat-alat kosmetik. Salah satu alat kosmetik yang sering digunakan oleh kaum hawa adalah bedak. Menurut DepKes RI (1985:184) bedak adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk memulas kulit wajah dengan sentuhan artistik atau meningkatkan penampilan wajah.
Bedak umumnya mengandung titanium dioksida (TiO2) yang berfungsi sebagai tabir surya karena dapat menyerap sinar UV dan mencegah perubahan warna kulit akibat terpapar sinar UV.
Kebiasaan yang sering dilakukan oleh kaum hawa pada saat berbedak adalah bergosip. Ketika bergosip rongga-rongga pernafasan bagian atas terbuka lebar, akibatnya serbuk-serbuk bedak yang mengandung titanium dioksida dapat terhirup masuk ke dalam tubuh. Penelitian oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2006 mengatakan bahwa serbuk titanium dioksida dapat menjadi karsinogen (zat pemicu kanker) pada manusia.
Kesimpulan tersebut didasari dari hasil penemuan IARC bahwa tikus yang dipapari dengan serbuk titanium dioksida secara terus-menerus dan dengan kosentrasi tinggi mengalami kanker pada saluran pernapasannya. Penelitian lain yakni UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center juga mengatakan bahwa titanium dioksida dengan ukuran nanopartikel dapat menyebabkan kerusakan genetika pada tikus.
Kembali lagi dengan pepatah lama,”mencegah lebih baik daripada mengobati,” hindari berbicara ataupun bergosip sambil berbedak agar tidak terhirup serbuk titanium dioksida.
Daftar Pustka
UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center. 2009. Nanoparticles Used in Common Household Items Cause Genetic Damage in Mice. http://www.sciencedaily.com/releases/2009/11/091116165739.htm. (7 Mei 2011)
International Agency for Research on Cancer (IARC).2006. Titanium Dioxide Classified as Possibly Carcinogenic to Humans. http://www.ccohs.ca/headlines/text186.html. (7 Mei 2011)
Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita untuk selalu berusaha tampil cantik baik secara alami atau dengan menggunakan alat-alat kosmetik. Salah satu alat kosmetik yang sering digunakan oleh kaum hawa adalah bedak. Menurut DepKes RI (1985:184) bedak adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk memulas kulit wajah dengan sentuhan artistik atau meningkatkan penampilan wajah.
Bedak umumnya mengandung titanium dioksida (TiO2) yang berfungsi sebagai tabir surya karena dapat menyerap sinar UV dan mencegah perubahan warna kulit akibat terpapar sinar UV.
Kebiasaan yang sering dilakukan oleh kaum hawa pada saat berbedak adalah bergosip. Ketika bergosip rongga-rongga pernafasan bagian atas terbuka lebar, akibatnya serbuk-serbuk bedak yang mengandung titanium dioksida dapat terhirup masuk ke dalam tubuh. Penelitian oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2006 mengatakan bahwa serbuk titanium dioksida dapat menjadi karsinogen (zat pemicu kanker) pada manusia.
Kesimpulan tersebut didasari dari hasil penemuan IARC bahwa tikus yang dipapari dengan serbuk titanium dioksida secara terus-menerus dan dengan kosentrasi tinggi mengalami kanker pada saluran pernapasannya. Penelitian lain yakni UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center juga mengatakan bahwa titanium dioksida dengan ukuran nanopartikel dapat menyebabkan kerusakan genetika pada tikus.
Kembali lagi dengan pepatah lama,”mencegah lebih baik daripada mengobati,” hindari berbicara ataupun bergosip sambil berbedak agar tidak terhirup serbuk titanium dioksida.
Daftar Pustka
UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center. 2009. Nanoparticles Used in Common Household Items Cause Genetic Damage in Mice. http://www.sciencedaily.com/releases/2009/11/091116165739.htm. (7 Mei 2011)
International Agency for Research on Cancer (IARC).2006. Titanium Dioxide Classified as Possibly Carcinogenic to Humans. http://www.ccohs.ca/headlines/text186.html. (7 Mei 2011)
16 April 2011
Korelasi Radiasi Sinar UV dan Kanker Kulit
Bismillah
Dewasa ini penipisan lapisan ozon akibat polutan florokarbon, terutama yang mengandung klorida/bromida semakin tinggi ( Sukowati, 2008). Salah satu fungsi ozon adalah melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet (sinar matahari) yang berbahaya. Sinar ultraviolet (UV) terdiri dari tiga macam berdasarkan panjang gelombang, yakni dari yang terpanjang sinar UV-A, kemudian sinar UV-B, lalu yang terpendek sinar UV-C. Sesuai dengan teori foton: semakin kecil pendek panjang gelombang, maka energi yang dihasilkan semakin besar, sehingga dapat dikatakan bahwa radiasi sinar UV-C menimbulkan efek radiasi yang paling berbahaya. Ozon dalam keadaan normal dapat melindungi bumi dari radiasi sinar UV-C, namun apakah sekarang lapisan ozon masih mampu?
Kanker kulit (melanoma) merupakan penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali. Kanker kulit dapat merusak jaringan di sekitarnya bahkan mampu merambat ke daerah lainnya (www.wfumbc.edu). Radiasi ultraviolet, terutama sinar UV-C merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya kanker kulit (Sudiana, 2008). Radiasi ultraviolet menyebaebkan kecacatan pada basa pirimidin yaitu timin. Timin sangat peka terhadap sinar ultraviolet, apabila terpapar timin akan berdimerisasi membentuk timin dimerisasi. Dimerisasi timin adalah tebentuknya ikatan silang antara timin-timin yang bersebelahan. Hasil pengikatan tersebut dinamakan dimer (lihat gambar 3.5). Dimerisasi timin akan mengacaukan replikasi DNA, sehingga dapat menyebabkan kacaunya metabolisme di dalam sel, dan paling buruk dapat menyebabkan kanker kulit (Santoso, 2007).
Allah itu maha penyayang, ia telah merancang sebagaimana rupa sehingga tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk memperbaiki dimerisasi timin yaitu dengan reparasi eksisi menggunakan enzim endonuklease. Namun, apabila manusia tidak menjaga kesehatan tubuhnya dan sering terpapar sinar UV tanpa perlindungan, reparasi eksisi dapat tidak berjalan maksimal yang akibatnya dimerisai timin tidak mampu diperbaiki oleh tubuh.
Daftar pustaka
Santoso, Bentot. 2007. Biologi Pelajaran Biologi untuk SMA/MA. Interplus. Jakarta.
Sudiana, I Ketut. 2008. Patobiologi Molekuler Kanker. Salemba Medika. Jakarta.
sukowati andria. 2008. www.bplhdjabargo.id
www.wfumbc.edu
Dewasa ini penipisan lapisan ozon akibat polutan florokarbon, terutama yang mengandung klorida/bromida semakin tinggi ( Sukowati, 2008). Salah satu fungsi ozon adalah melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet (sinar matahari) yang berbahaya. Sinar ultraviolet (UV) terdiri dari tiga macam berdasarkan panjang gelombang, yakni dari yang terpanjang sinar UV-A, kemudian sinar UV-B, lalu yang terpendek sinar UV-C. Sesuai dengan teori foton: semakin kecil pendek panjang gelombang, maka energi yang dihasilkan semakin besar, sehingga dapat dikatakan bahwa radiasi sinar UV-C menimbulkan efek radiasi yang paling berbahaya. Ozon dalam keadaan normal dapat melindungi bumi dari radiasi sinar UV-C, namun apakah sekarang lapisan ozon masih mampu?
Kanker kulit (melanoma) merupakan penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali. Kanker kulit dapat merusak jaringan di sekitarnya bahkan mampu merambat ke daerah lainnya (www.wfumbc.edu). Radiasi ultraviolet, terutama sinar UV-C merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya kanker kulit (Sudiana, 2008). Radiasi ultraviolet menyebaebkan kecacatan pada basa pirimidin yaitu timin. Timin sangat peka terhadap sinar ultraviolet, apabila terpapar timin akan berdimerisasi membentuk timin dimerisasi. Dimerisasi timin adalah tebentuknya ikatan silang antara timin-timin yang bersebelahan. Hasil pengikatan tersebut dinamakan dimer (lihat gambar 3.5). Dimerisasi timin akan mengacaukan replikasi DNA, sehingga dapat menyebabkan kacaunya metabolisme di dalam sel, dan paling buruk dapat menyebabkan kanker kulit (Santoso, 2007).
Allah itu maha penyayang, ia telah merancang sebagaimana rupa sehingga tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk memperbaiki dimerisasi timin yaitu dengan reparasi eksisi menggunakan enzim endonuklease. Namun, apabila manusia tidak menjaga kesehatan tubuhnya dan sering terpapar sinar UV tanpa perlindungan, reparasi eksisi dapat tidak berjalan maksimal yang akibatnya dimerisai timin tidak mampu diperbaiki oleh tubuh.
Mencegah lebih baik daripada mengobatiMaka dari itu mulailah melindungi tubuh anda dari radiasi sinar UV dapat berupa dengan menggunakan tabir surya, bahan yang menutupi kulit ataupun memakan makanan yang kaya antioksidan.
Daftar pustaka
Santoso, Bentot. 2007. Biologi Pelajaran Biologi untuk SMA/MA. Interplus. Jakarta.
Sudiana, I Ketut. 2008. Patobiologi Molekuler Kanker. Salemba Medika. Jakarta.
sukowati andria. 2008. www.bplhdjabargo.id
www.wfumbc.edu
04 Maret 2011
Bismillah
Salah satu luaran yang diharapkan oleh seorang mahasiswa farmasi adalah mampu menganalisis bahan baku farmasi, makanan, dan bentuk sediaan obat-obatan. Berikut adalah beberapa metode analisis berdasarkan ilmu biokimia mengenai asam amino,dan protein .
Salah satu luaran yang diharapkan oleh seorang mahasiswa farmasi adalah mampu menganalisis bahan baku farmasi, makanan, dan bentuk sediaan obat-obatan. Berikut adalah beberapa metode analisis berdasarkan ilmu biokimia mengenai asam amino,dan protein .
Percobaan asam amino dan protein
1. Test Millon
Reaksi ini disebabkan oleh derivat-derivat monofenol seperti tirosin. Pereaksi yang digunakan adalah larutan ion merkuri/merkuro dalam asam nitrat/nitrit. Warna merah yang terbentuk mungkin disebabkan oleh garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi.
Metode :
Tambahkan 5 tetes pereaksi Millon ke dalam tabung reaksi yang telah berisi 3 ml albumin, kasein, fenol 2% dan putih telur. Panaskan campuran dengan hati-hati. Warna merah menyatakan hasil positif, jika reagen yang digunakan terlalu banyak maka warna akan hilang dengan pemanasan.
| Larutan Uji | Sebelum dipanaskan | Setelah dipanaskan | Hasil Uji |
| Albumin | Ada yang menggumpal | Gumpalan merah | + |
| Kasein | Ada endapan | Gumpalan merah | + |
| Fenol 2% | Bening | Merah | + |
| Putih Telur | Ada yang menggumpal | Gumpalan merah | + |
Gambar 1. Test Millon (Kasein-Putih telur-Fenol 2%-Albumin)
Baik Albumin, kasein, fenol 2 %, maupun putih telur memberikan hasil (+) terhadap test Millon. Hal ini dikarenakan pada Albumin, Kasein, fenol 2% dan putih telur mengandung derivat monofenol.
Reaksi ini didasari bahwa bila suatu protein ditambahkan garam merkuri, maka akan terjadi koagulasi. Protein dapat terkoagulasi karena protein mengalami destruksi bentuk tiga dimensi dari rantai polipeptida yang ikatannya akan pecah tanpa mengakibatkan pemecahan ikatan kovalen dari ikatan peptidanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

