20 April 2010

Mana yang Lebih Tinggi Suhu Ketiak atau Suhu Mulut?


Fenfen (OP) sedang mengukur suhu tubuh melalui mulut


Bila kita lihat di rumah sakit atau di tv begitu banyak cara pengukuran suhu ada yang melalui mulut, ketiak bahkan anus. Pernyataannya sekarang apakah hasil pengukuran yang diberikan sama atau tidak, oleh sebab itu tadi siang tanggal 20 April 2010 bertempat di Lab. Farmaologi, kami mahasiswa Farmasi Reguler 2009 UI mengedakan percobaan anataomi fisiologi manusia mengenai suhu badan.


Cici sampai ketiduran hihi...

Mengapa perlu pemeriksaan suhu badan? Pemakaian energi oleh tubuh menghasilkan panas, yang penting dalam pengaturan suhu. Manusia biasanya tinggal di lingkungan eksternal yang lebih dingin daripada suhu tubuh mereka, sehingga manusia harus terus menerus menghasilkan panas secara internal untuk mempertahankan suhu tubuh mereka. Mereka juga harus memiliki mekanisme untuk mendinginkan tubuh apabila tubuh memperoleh terlalu banyak panas dari aktivitas otot rangka atau dari lingkungan eksternal yang panas. Suhu tubuh harus diatur karena kecepatan reaksi kimia sel bergantung pada suhu dan panas yang berlebihan akan merusak protein sel.

Yuk Periksa Mata!

Bismillah

Mata adalah salah satu alat optik alamiah yang merupakan salah satu anugerah dari Sang Pencipta adalah mata. Di dalam mata terdapat lensa kristalin yang terbuat dari bahan bening, berserat, dan kenyal. Lensa kristalin atau lensa mata berfungsi mengatur pembiasan yang disebabkan oleh cairan di depan lensa. Cairan ini dinamakan aqueous humor. Intensitas cahaya yang masuk ke mata diatur oleh pupil.Cahaya yang masuk ke mata difokuskan oleh lensa mata ke bagian belakang mata yang disebut retina. Bentuk bayangan benda yang jatuh di retina seolah-olah direkam dan disampaikan ke otak melalui saraf optik. Bayangan inilah yang sampai ke otak dan memberikan kesan melihat benda kepada mata. Jadi, mata dapat melihat objek dengan jelas apabila bayangan benda (bayangan nyata) terbentuk tepat di retina.

Dalam pemeriksaan mata dikenal istilah visus. Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang khusus di mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan sensitifitas dari interpretasi di otak. Visus merupakan sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan untuk mengidentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar belakang putih dengan jarak yang telah distandardisasi serta ukuran dari simbol yang bervariasi. Istilah “visus 20/20” adalah suatu bilangan yang menyatakan jarak dalam satuan kaki yang mana seseorang dapat membedakan sepasang benda. Satuan lain dalam meter dinyatakan sebagai visus 6/6. Dua puluh kaki dianggap sebagai tak terhingga dalam perspektif optikal.
Untuk menghasilkan detail penglihatan, sistem optik mata harus memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea, sebuah daerah di dalam makula yang memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor konus/kerucut sehingga memiliki resolusi tertinggi dan penglihatan warna terbaik. Ketajaman dan penglihatan warna sekalipun dilakukan oleh sel yang sama, memiliki fungsi fisiologis yang berbeda dan tidak tumpang tindih kecuali dalam hal posisi. Ketajaman dan penglihatan warna dipengaruhi secara bebas oleh masing-masing unsur.

Seperti pada lensa fotografi, ketajaman visus dipengaruhi oleh diameter pupil. Perkembangan yang normal dari ketajaman visus tergantung dari input visual di usia yang sangat muda. Segala macam bentuk gangguan visual yang menghalangi input visual dalam jangka waktu yang lama seperti katarak, strabismus, atau penutupan dan penekanan pada mata selama menjalani terapi medis biasanya berakibat sebagai penurunan ketajaman visus berat dan permanen pada mata yang terkena jika tidak segera dikoreksi atau diobati di usia muda.


Hipermetropi, Miopi, dan Astigmatisma, Apaan tuh?

Titik terdekat yang mampu dilihat oleh mata dengan jelas disebut titik dekat mata (punctum proximum/PP). Pada saat melihat benda yang berada di titik dekatnya, mata dikatakan berakomodasi maksimum. Titik dekat mata disebut juga dengan jarak baca normal karena jarak yang lebih dekat dari jarak ini tidak nyaman digunakan untuk membaca dan mata akan terasa lelah. Jarak baca normal atau titik dekat mata adalah sekitar 25 cm. Adapun, titik terjauh yang dapat dilihat oleh mata dengan jelas disebut titik jauh mata (punctum remotum/PR). Pada saat melihat benda yang berada di titik jauhnya, mata berada dalam kondisi tidak berakomodasi. Jarak titik jauh mata normal adalah di titik tak hingga (~).

MIOPI

Orang yang menderita rabun jauh atau miopi tidak mampu melihat dengan jelas objek yang jauh tapi tetap mampu melihat dengan jelas objek di titik dekatnya (pada jarak 25 cm). titik jauh mata orang yang menderita rabun jauh berada pada jarak tertentu (mata normal memiliki titik jauh tak berhingga).
Rabun jauh dapat diperbaiki dengan menggunakan lensa divergen yang bersifat menyebarkan (memencarkan) sinar. Lensa divergen atau lensa cekung atau lensa negatif dapat membantu lensa mata agar dapat memfokuskan bayangan tepat di retina.

HIPERMETROPI

Orang yang menderita rabun dekat atau hipermetropi tidak mampu melihat dengan jelas objek yang terletak di titik dekatnya tapi tetap mampu melihat dengan jelas objek yang jauh (tak hingga). Titik dekat mata orang yang menderita rabun dekat lebih jauh dari jarak baca normal (PP > 25 cm).
Cacat mata hipermetropi dapat diperbaiki dengan menggunakan lensa konvergen yang bersifat mengumpulkan sinar. Lensa konvergen atau lensa cembung atau lensa positif dapat membantu lensa mata agar dapat memfokuskan bayangan tepat di retina.

ASTIGMATISMA

Mata astigmat atau mata silindris adalah suatu keadaan dimana sinar yang masuk ke dalam mata tidak terpusat pada satu titik saja tetapi sinar tersebut tersebar menjadi sebuah garis. Astigmatisma merupakan kelainan pembiasan mata yang menyebabkan bayangan penglihatan pada satu bidang fokus pada jarak yang berbeda dari bidang sudut. Pada astigmatisma berkas sinar tidak difokuskan ke retina di dua garis titik api yang saling tegak lurus.

 Opnotip Snellen

Ada Apa dengan Filariasis di Indonesia?

Tika Nurhasanah


Masih ingatkah kita kejadian yang menghebohkan bulan November 2009 yang lalu? Pemberian obat massal antifilariasis yang ditujukan untuk memberantas penyakit kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Bandung, ternyata berakibat fatal. Dilaporkan sebanyak 8 warga diduga tewas dan lebih dari 200 orang warga dirawat setelah mengkonsumsi obat antifilariasis yang diberikan secara massal oleh pemerintahan setempat dengan jumlah pasien terbanyak berasal dari Kecamatan Majalaya. Menanggapi kasus yang terjadi Ketua Komite Ahli Pengobatan Filariasis (KAPFI) Prof. Dr. dr. Purwantyastuti, M.Sc., Sp.FK mengatakan, obat anti filariasis yang diberikan aman digunakan, apakah benar begitu? Kasus kematian warga setelah mengkonsumsi obat antifilariasis diduga disebabkan oleh 3 hal; pemberian obat massal tanpa didampingi tenaga kesehatan, pemberian obat yang tidak tepat dosis, dan tidak dinformasikan tata cara penggunaan obat yang benar.

Pada saat pemberian obat antifilariasis di Kabupaten Bandung, pemberian obat diberikan oleh kader bukan oleh tenaga medis, yakni farmasis yang memiliki tanggung jawab dalam pemberian obat dan reaksi di dalam tubuh pasien. Alasan Dinas kesehatan yang mengatakan bahwa kader-kader yang bekerja telah diberikan sosialisasi dan agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Meskipun dinas kesehatan provinsi berkelit tim dokter dan perawat tetap berada di puskesmas kecamatan selama tiga hari untuk melakukan pengawasan dalam operasional pengobatan massal kaki gajah. Apabila tenaga medis yang disediakan hanya bekerja di puskesmas, lalu siapa yang mengontrol pemberian obat di lapangan? Walaupun hal ini merupakan pengobatan massal gratis bagi masyarakat tidak seharusnya pelayanan yang diberikan alakadarnya, pengeluaran pemerintah dibiayai oleh masyarakat, maka kewajiban pemerintah untuk memberi pelayan yang terbaik di bidang kesehatan.

Pemberian obat yang tidak tepat dosis menjadi salah satu penyebab terjadinya efek samping yang fatal. Proses pengobatan menggambarkan suatu proses normal atau "fisiologik" dari pengobatan, di mana diperlukan pengetahuan, keahlian sekaligus berbagai pertimbangan profesional dalam setiap tahap sebelum membuat suatu keputusan. Dalam pemberian dosis obat-obatan perlu diperhatikan usia dan berat badan dari si pasien, karena pemberian dosis bagi anak-anak, dewasa dan orangtua di atas 50 tahun berbeda. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh pasien dalam menerima pengobatan. Dalam kasus pengobatan filariasis di Kabupaten Bandung, diberikan tiga jenis obat-obatan, yaitu dietil karbamasin sitrat (DEC), albendazol (obat cacing) dan parasetamol (obat penurun panas). Pemberian dosis antifilariasis yang diberikan sudah sesuai prosedur WHO, yaitu 6 mg/kg berat badan untuk DEC dan 400 mg untuk Albendazole, dikonsumsi 3 kali sehari, penimbangan berat badan warga memang tidak dilakukan, namun pemerintah menggunakan perhitungan berat badan rata-rata per kelompok umur yang dinilai cukup aman. Kesalahan dalam pemberian obat yang tidak sesuai dengan kelompok kemungkinan besar dapat terjadi, melihat obat antifilariasis diberikan bukan oleh tenaga medis yang profesional.

18 April 2010

Latihan Kepemimpinan Ismafarsi : Mahasiswa Farmasi Berguru kepada TNI AD

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” salah satu hadis Rasulullah yang mengajarkan agar manusia menuntut ilmu sebanyak-banyak. Ilmu dapat diperoleh tidak hanya dari institusi formal seperti perguruan tinggi, namun dapat diperoleh dari sumber lainnya, hal itulah yang mendasari Ismafarsi (Ikatan senat mahasiswa farmasi Indonesia) mengadakan Latihan Kepemimpinan tingkat II yang disingkat LK II se-Jabodelata (Jakarta, Bogor, Depok, Lampung, dan Tangerang) yang merupakan kelanjutan dari Latihan Kepemimpinan Dasar di tiap Universitas. LK II yang dilaksanakan pada tanggal 17-18 April 2010 yang diikuti oleh oleh 7 Universitas dan sekolah tinggi Farmasi Se-Jabodelata, antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Pancasila (UP), Universitas Muhammadiyah Profesor Doktor Hamka (UHAMKA), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN), Universitas Tulang Bawang Lampung (UTB), Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor (STTIF), dan Universitas Pakuan Bogor.

Keunikan Latihan Kepemimpinan Farmasi kali ini dibanding sebelumnya adalah pihak-pihak yang terkait tidak hanya berasal dunia kesehatan namun juga dari non-kesehatan, yang diwakili oleh TNI AD. Acara yang dilaksanakan di dua tempat ini yaitu Universitas UHAMKA sebagai tuan rumah dan Resimen Induk Kodam Jaya (Rindam Jaya) Jakarta Timur memiliki acara-acara yang menarik untuk diikuti oleh Mahasiswa Farmasi karena dirancang untuk pembentuk Farmasis-Farmasis berjiwa pemimpin yang siap berkontribusi bagi kemajuan Ismafarsi dan dunia Kefarmasian Indonesia. Bertempat di Kampus UHAMKA, acara LK II ini dibuka oleh Wakil Dekan III FMIPA UHAMKA, Drs. Priyanto, Apt., M. Biomed, dilanjutkan dengan pelatihan kepemimpinan oleh Saudara Rian selaku kepala Bidang Advokasi Ismafarsi wilayah Jabodelata. Hal yang menarik dari pelatihan dari saudara Rian adalah setiap materi yang disampaikan langsung dipraktikan melalui permainan sehingga, mahasiswa lebih mudah menyerap ilmu yang telah disampaikan. Contohnya, pada sesi kepemimpinan narasumber mengatakan bahwa dalam organisasi terdiri dari tiga bagian penting, yaitu konseptor, kreator, dan pengawas. Dalam permainan para mahasiswa dibagi menjadi 3 bagian. Pertama merupakan para konseptor, mereka diminta untuk menjelaskan isi dari pola puzzle yang telah diberikan oleh narasumber hanya dengan kata-kata saja kepada para kreator selama 5 menit, selanjutnya para kreator menyusun puzzle sesuai intruksi yang telah diberikan setelah puzzle selesai tim pengawas menilai cara kerja para kreator dan memberikan saran dan kritik membangun.