25 Februari 2012

Kebijakan Dikti, Perlu Masa Transisi

Bismillah

Mahasiswa seharusnya tidak perlu getir dengan kewajiban menulis di jurnal ilmiah sebagai prasyarat kelulusan. Hampir setiap mata kuliah mewajibkan mahasiswa untuk membuat makalah atau laporan. Menulis sudah menjadi makanan mahasiswa setiap harinya. Terlebih lagi metodologi penelitian dan penulisan karya ilmiah juga diajarkan di bangku kuliah. Jadi apa yang dikhawatirkan?

Niat baik Direktorat Kebijakan Perguruan Tinggi (DIKTI) untuk mengejar ketertinggalan publikasi jurnal ilmiah Indonesia dibanding Negara tetangga, perlu didukung. Namun, dalam waktu pelaksanaan yakni Agustus 2012, terkesan terburu-buru. Seharusnya DIKTI memberikan masa transisi 1-2 tahun sebelum menerapkan kebijakan ini. Masa transisi perlu dilaksanakan sebagai tahap persiapan, agar ke depannya berjalan sesuai tujuan.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan pada masa transisi. Pertama, sosialisasi kebijakan secara merata ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Tercatat Indonesia pada tahun 2012 Indonesia memiliki 3070 perguruan tinggi. DIKTI harus berkerja keras agar setiap Perguruan Tinggi memahami kebijakan yang dikeluarkan, bukan hanya melalui surat edaran semata.
Kedua, perlu adanya sinkronisasi dalam penulisan serta metodologi penelitian ketika penyusunan skripsi dengan jurnal ilmiah. Diharapkan, skripsi yang dihasilkan mahasiwa dapat memenuhi kriteria untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah.

Ketiga, diperbanyak lomba-lomba penulisan artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal. Seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Artikel Ilmiah yang tiap tahun diselenggarkan oleh DIKTI. Sehingga dapat menjadi sarana latihan bagi mahasiwa dalam menulis jurnal ilmiah.

Setelah masa transisi berakhir, segenap stakeholders yakni DIKTI, pemerintah, dan civitas akademik harus saling berkoordinasi dalam menjaga keberlangsungan kebijakan ini. DIKTI melakukan fungsi pengawasan dan sosialisasi, pemerintah memberikan bantuan dana terkait penelitian yang dilakukan mahasiswa. Serta Civitas akademika menjaga mutu dari jurnal yang dihasilkan.

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat

23 Januari 2012

Berbedak sambil Berbicara “Memicu” Kanker

Bismillah

Sudah menjadi kebiasaan bagi wanita untuk selalu berusaha tampil cantik baik secara alami atau dengan menggunakan alat-alat kosmetik. Salah satu alat kosmetik yang sering digunakan oleh kaum hawa adalah bedak. Menurut DepKes RI (1985:184) bedak adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk memulas kulit wajah dengan sentuhan artistik atau meningkatkan penampilan wajah.

Bedak umumnya mengandung titanium dioksida (TiO2) yang berfungsi sebagai tabir surya karena dapat menyerap sinar UV dan mencegah perubahan warna kulit akibat terpapar sinar UV.

Kebiasaan yang sering dilakukan oleh kaum hawa pada saat berbedak adalah bergosip. Ketika bergosip rongga-rongga pernafasan bagian atas terbuka lebar, akibatnya serbuk-serbuk bedak yang mengandung titanium dioksida dapat terhirup masuk ke dalam tubuh. Penelitian oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2006 mengatakan bahwa serbuk titanium dioksida dapat menjadi karsinogen (zat pemicu kanker) pada manusia.

Kesimpulan tersebut didasari dari hasil penemuan IARC bahwa tikus yang dipapari dengan serbuk titanium dioksida secara terus-menerus dan dengan kosentrasi tinggi mengalami kanker pada saluran pernapasannya. Penelitian lain yakni UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center juga mengatakan bahwa titanium dioksida dengan ukuran nanopartikel dapat menyebabkan kerusakan genetika pada tikus.

Kembali lagi dengan pepatah lama,”mencegah lebih baik daripada mengobati,” hindari berbicara ataupun bergosip sambil berbedak agar tidak terhirup serbuk titanium dioksida.

Daftar Pustka
UCLA's Jonsson Comprehensive Cancer Center. 2009. Nanoparticles Used in Common Household Items Cause Genetic Damage in Mice. http://www.sciencedaily.com/releases/2009/11/091116165739.htm. (7 Mei 2011)
International Agency for Research on Cancer (IARC).2006. Titanium Dioxide Classified as Possibly Carcinogenic to Humans. http://www.ccohs.ca/headlines/text186.html. (7 Mei 2011)